Faktor-Faktor Pendukung Proses Ereksi

Posted on 26 September 2009

0


Organ-organ seks yang bekerja pada mekanisme terjadinya ereksi adalah organ utama untuk proses terjadinya ereksi. Bila organ-organ tersebut rusak, ereksi penis tidak akan terjadi.

Untuk mendapatkan ereksi yang normal dibutuhkan berbagai faktor pendukung. Tanpa faktor pendukung yang normal dan sesuai, ereksi yang keras tidak akan tercapai. Faktor-faktor yang mendukung tercapainya ereksi seperti berikut:

1. Faktor psikogen,
2. Faktor kesehatan fisik, dan
3. Faktor situasional.

Ketiga faktor di atas menentukan kemampuan mencapai ereksi yang normal. Walaupun stimulasi seks tinggi atau banyak, tetapi bila kondisi jiwa tidak tenang dan kondisi fisik tidak normal maka ereksi yang keras sulit dicapai.

Banyak orang jadi bingung karena ereksi tidak keras walaupun sudah bercumbu lama dan sangat gairah pada pasangan. Penyebabnya adalah karena faktor-faktor di atas tidak mendukung terjadinya proses ereksi yang keras.

Pada orang muda kondisi jiwa lebih berperan. Walaupun fisik lelah tapi bila hasrat besar, ereksi yang keras akan dicapai. Penyebabnya ialah karena badan masih kuat dan sehat. Kelelahan tidak jadi masalah asalkan gairah tinggi. Tetapi bila jiwa dalam keadaan goyang misalnya takut tertular penyakit, takut pasangan hamil atau kurang suka pada pasangan, mada proses ereksi akan menjadi susah.

Sebaliknya pada usia tua, keduanya sama penting yakni jiwa harus tenang dan suka kepada pasangan. Keadaan fisik harus normal dan segar. Jika fisik sedikit lelah proses ereksi tidak bisa keras. Kadang-kadang pasien tidak menyadari kondisi fisik yang lelah. Terutama orang yang sudah cukup berumur misalnya 60 tahunan dan biasa kerja keras atau suka kerja keras. Justru kalau kerja keras perasaannya senang lalu mencoba koitus tetapi ereksi tidak bisa keras. Timbul pertanyaan dalam pikiran, perasaannya tenang dan badan sehat, kenapa tidak bisa ereksi.

Tidak sadar bahwa fisik lelah karena melakukan kerja keras. Ia lupa atau tidak menyadari kelelahannya sehingga ereksi tidak bisa keras. Akibatnya pikiran jadi bingung kenapa tidak bisa ereksi padahal semua kondisi tubuh normal. Baru seminggu sebelumnya melakukan koitus dengan ereksi yang normal. Bila pikiran bingung dan perasaan khawatir maka ereksi akan makin sulit dan akhirnya akan terjadi disfungsi ereksi.

Tetapi bila perasaan tenang dan yakin akan normal lagi, maka proses ereksi akan kembali normal. Dalam keadaan demikianlah dokter perlu teliti memeriksa semua kondisi dan aktivitas pasien sehingga penyebab ketidakmampuan ereksi bisa ditetapkan dengan tepat.

Jadi, sebagian besar kemampuan ereksi ditentukan oleh 2 faktor utama yaitu faktor psikogen dan faktor kesehatan fisik, sedangkan pengaruh faktor situasional lebih sedikit. Kadang-kadang ketiga faktor ini pun campur-baur sehingga agak sulit menentukan faktor mana yang lebih dominan. Untuk itulah dalam pemeriksaan, ketiga faktor ini harus diteliti dengan jelas.