Istri Pemilik Pria Idaman Lain, Umumnya Wanita Dominan

Posted on 24 September 2009

0


Ketika istri ditinggal suami berselingkuh, reaksi yang terjadi bermacam-macam. Menangis histeris, menangis diam-diam, marah besar dan mendatangi WIL (wanita idaman lain) sang suami, seperti yang sering tergambar di sinetron Indonesia, atau hanya diam dan pasrah. Lalu, ketika kejadian itu terjadi pada kaum lelaki, istri meninggalkan suami karena ada PIL (pria idaman lain), apa reaksi laki-laki yang digembar-gemborkan sebagai makhluk lebih kuat dan tegar dari perempuan itu?

TERNYATA soal hati sama saja. Kendati tidak bercucuran air mata, para lelaki yang tampak tegar itu mengakui mereka terluka. Namun mereka mengungkapkannya dengan cara berbeda. Banyak yang berubah menjadi “harimau yang terluka”. Mengamuk tidak saja pada istrinya, melainkan juga pada pasangan selingkuh istri. Tengok saja Cecep (45) yang selama beberapa bulan terus mencari-cari istrinya yang pergi dengan laki-laki yang lebih bonafide darinya.

“Golok tak pernah lepas dari badan saya. Begitu saya temukan mereka, saya akan menghabisi mereka. Biar saja saya dipenjara. Ini menyangkut harga diri,” ceritanya tentang kejadian beberapa tahun silam. Namun kini Cecep mensyukuri saat itu ia tak berhasil menemukan persembunyian istrinya. “Untunglah persembunyian mereka tidak saya temukan saat saya marah besar saat itu. Kalau itu terjadi, bagaimana nasib anak saya kelak?” katanya. Kini ia sudah “ikhlas” melepas istrinya.

Rasa marah, juga reaksi pertama yang keluar dari Randi (35), saat mengetahui istrinya, sebut saja Rani, berpacaran dengan seorang sales alat-alat otomotif. Randi yang pengusaha bengkel tidak menyangka istrinya tega mengkhianati perkawinan mereka yang telah membuahkan dua anak balita yang lucu-lucu. Tak bisa mengendalikan diri, ia memukul istrinya. Pemukulan yang dilakukan Randi berujung mendekamnya Randi beberapa hari di tahanan karena orang tua Rani mengadukannya.

Lain lagi dengan kisah Yanto (43). Ia mengaku sangat marah dan harga dirinya terasa diinjak-injak ketika tahu istrinya telah menikah diam-diam selagi perkawinan mereka belum bubar. Namun Yanto masih bisa mengendalikan diri.

“Semua perasaan bercampur aduk. Mula-mula shock, marah, sakit hati dan akhirnya pasrah,” kenang Yanto. Padahal menurut Yanto, perkawinan mereka tampaknya baik-baik saja, sampai muncul PIL di hati istrinya. Kemudia ia meminta istrinya meninggalkan rumah setelah perceraian berlangsung secara resmi di pengadilan. Karena merasa istrinya tak bisa mengajarkan perbuatan baik, Yanto menahan kedua anak mereka untuk tetap ada dalam pengasuhannya.

Masa-masa prahara akibat ditinggal istri, umumnya diakui para pria ini sebagai masa paling berat. Ketika prahara itu reda, yang tinggal hanyalah rasa sedih dan sakit hati. Sambil menanggung beban hati, para pria ini mengaku mulai berusaha bangkit dan menata hidup lagi.

“Apa yang biasa dilakukan istri, saya lakukan sendiri. Mengurus rumah, memasak hingga mengantar anak ke sekolah. Semua saya sempat-sempatkan,” cerita Yanto.

Sebenarnya banyak kenalannya yang kasihan melihat keadaan Yanto dan ingin mencoba menjodohkannya lagi. Sebagai laki-laki, tentu saja ia ingin. “Tapi anehnya setiap saya dikenalkan dengan seorang wanita, yang terbayang adalah wajah anak-anak saya. Bagaimana jika wanita yang saya pilih tidak sesuai untuk anak-anak. Akhirnya saya putuskan hidup bertiga dengan anak-anak.”

Sedangkan keputusan Randi untuk tidak menikah lagi bukan semata khawatir akan perasaan anak-anaknya mendapat ibu tiri. “Saya kapok. Benar-benar kapok berhubungan dengan wanita,” ucapnya pahit.

Pilihan menikah lagi justru dilakukan Cecep dengan pertimbangan agar anak-anaknya yang masih kecil terurus. “Soal ia selingkuh atau tidak nanti, saya pasrah saja.” akunya.

Umumnya para pria malang ini mengaku merasa tak ada yang salah dengan perkawinan mereka. Seperti yang dikemukakan Adrian (44), yang awal Januari 2005 – 2007 ini mendapat surprise istrinya berselingkuh.

**

APA yang menimpa para lelaki ini dicermati juga oleh Ketua Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga Yayasan Sosial Al-Bitsah Kabupaten Bandung, H.Koeswara.K.Y. Menurut pria yang juga aktif berceramah ini, ketika para suami ditinggal istrinya karena menemukan pria idaman lain hal itu adalah kesalahan para suami sendiri.

“Kasus seperti ini banyak saya tangani. Setelah saya cermati walaupun tudingan pastilah datang ke pihak istri, tetapi kesalahan tetap ada pada suami,” tegas Koeswara.

Para suami ini, menurut Koeswara tidak bisa memenuhi 3 peran yang seharusnya dilakoni kaum laki-laki ketika ia berumah tangga. “Ia harusnya bisa berperan sebagai suami, ayah, dan kepala rumah tangga,” Jelas Koeswara. Sebagai suami setidaknya ia harus bisa menjadi idola istrinya. “Sebagai contoh, mungkin semua istri ingin suami yang handsome. Soal fisik adalah anugerah dari Allah SWT, tapi minimal para suami berpenampilan rapi agar tak memalukan istri. Jangan mentang-mentang udah kawin, hanya memakai kaus sangsang (kaus dalam), ” urai Koeswara. Sebagai seorang ayah, ia harus bisa menjadi motivator dan teladan bagi anak-anaknya. Sedangkan sebagai kepala rumah tangga ia harus bisa tampil mewakili keluarga di masyarakat.

Diakui Koeswara, sulit bisa memenuhi ketiga peran tersebut sekaligus. “Tetapi minimal mengupayakannya agar setiap peran dipenuhi walaupun tidak bisa seratus persen sempurna.”

Faktor utama yang sering dijumpainya pada kasus istri berpaling pada lelaki lain disebabkan sang istri tak bisa mendapat apa yang diinginkannya dari suaminya. “Saya yakin hal ini tidak keluar dari hati nuraninya sendiri. Lebih banyak merupakan kompensasi ketidakpuasannya dari rumah tangganya. Di rumah tangganya sang suami tak berfungsi sebagai pemimpin.”

Kita lihat pada kasus artis-artis yang pergi meninggalkan suaminya. Umumnya mereka adalah perempuan-perempuan yang dominan. “Itulah mengapa dalam Islam perempuan tidak diberi porsi sebesar porsi laki-laki. Dalam Islam pemimpin rumah tangga adalah laki-laki,” ingatnya.

Kewajiban seorang pemimpin rumah tangga adalah memimpin istri dan anaknya. “Jadi jangan katakan, Oh suami itu baik, saleh sekali., istrinya bebas ke mana-mana. Tak pernah marah. Tak pernah melarang. Itu pendapat yang salah. Seorang suami berkewajiban mengingatkan istrinya agar tidak melangkah ke arah yang salah,” imbuh Koeswara.

Koeswara sering melihat karena begitu sayangnya pada istrinya yang cantik atau tak mau ribut, seorang suami tak mau menegur istrinya, kendati jelas-jelas sang istri berbuat salah.

Sebagai pemimpin keluarga, seorang laki-laki akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhir. “Sementara perempuan tidak. Itulah sebabnya kaum laki-laki harus benar-benar berfungsi sebagai pemimpin jika tak mau malu kelak di hadapan Allah SWT.”

Agar tak hadir orang ketiga, satu-satunya jalan adalah menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Untuk menciptakan surga rumah tangga perlu diupayakan komunikasi yang islami. “Pada dasarnya setiap individu baik laki-laki dan perempuan mempunyai ego masing-masing, yang terkadang saling bertentangan. Namun jika semua dikembalikan pada aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah SWT melalui Al quran dan berpegangan pada hadis, Insyaallah komunikasi antar pasangan suami istri akan terjadi. Inilah yang membuat rumah tangga langgeng,” kata Koeswara.

Sebagai pemimpin suami juga harus berlaku arif dan adil. Tidak mentang-mentang mendapat “kekuasaan penuh” ia semena-mena pada istrinya. “Seorang muslim tidak boleh menzalimi muslim lainnya. Jadi tak boleh suami menzalimi istrinya . Ia juga harus mau mendengarkan apa keinginan istri dan mencoba mencari titik temu seusai tuntunan Islam. Sebaik-baik orang beriman adalah orang yang baik budi pekertinya. Oang yang baik budi pekertinya adalah yang memberikan yang terbaik bagi istrinya. Ia harus berkata baik dan lembut pada istrinya. Niscaya, rumah tangga ini akan tahan terhadap badai sebesar apapun,” papar Koeswara

Jika sang suami sudah melaksanakan kewajibannya sebagai pemimpin namun istri masih meninggalkannya untuk pria lain hal ini berpulang pada “tabiat” sang perempuan. “Berarti sang istri memang tidak mau menjalankan ajaran Allah, ” kata Koeswara. ***