Bagaimana Menghadapi Kemandulan

Posted on 20 September 2009

0


Walaupun kita semua pernah mendengar pria usia tujuh puluhan yang masih bisa menghamili wanita, kebanyakan kita tidak demikian, karena kesuburan kita berangsur-angsur menurun sejalan dengan pertambahan usia, kata Dr. Galen.

“Kemandulan di kalangan pasangan berusia belasan tahun umumnya kurang dari satu persen,” kata Sherman Silber, M., seorang spesialis masalah kesuburan di St. Luke’s Hospital di St. Louis dan pengarang How to Get Pregnant with the New Technology.

“Dalam usia dua puluhan, kemungkinan ini naik menjadi 13 hingga 15 persen dan naik terus dengan mantap sampai usia 35 tahun, ketika tiba-tiba kenaikannya menjadi luar biasa. Dua puluh lima persen pasangan antara usia 35 dan 40 tahun tidak subur, dan selewat usia 40 tahun, hampir 50 persen dari mereka tidak akan mampu membuahi lagi.”

Maka, walaupun suatu pasangan baru dianggap tidak subur setelah satu tahun berusaha, pasangan-pasangan lebih tua dari 35 harus mencari pertolongan dokter meskipun baru mencoba selama enam bulan. Itu karena semakin lanjut usia anda, semakin besar kemungkinan bahwa kesuburan anda bermasalah.

“Setelah enam bulan, datanglah untuk mulai menjalani beberapa pengujian,” kata Dr. Lieciardi. “Itu tidak berarti anda harus melakukannya dengan segera, tetapi paling tidak anda akan mulai menjalani proses diagnostik.”

Ketika anda dan pasangan anda sudah mencoba dan mencoba lagi, cita-cita anda untuk melatih putra anda sendiri bermain kasti pelan-pelan memudar, dan kehidupan seks anda menjadi hambar.

Kemudian, pada suatu hari, kekesalan anda memuncak dan meledak, dilanjutkan dengan perbantahan sengit. Tidak peduli betapa cintanya anda kepada istri anda, beban akibat kemandulan ini dapat sangat mempengaruhi hubungan anda berdua. Untungnya anda dapat mengurangi ketegangan itu bila anda mempertahankan komunikasi yang balk dan menggunakan. masalah ini justru untuk memperkuat persatuan anda alih-alih mengoyaknya, kata Reed C. Moskowitz, M.D., pendiri dan direktur medis di Stress Disorders Medical Services di New York University Medical Center di New York City dan pengarang Your Mind.

“Terimalah dengan anggapan bahwa bukan anda atau bermasalah. Sebagai pasangan, anda harus menghadapi masalah ini bersama-sama. Yang terpengaruh adalah anda berdua,” kata Dr. Soskowitz. “Tidak penting siapa yang mempunyai kekurangan ‘isik. Ingat bahwa anda berdua menanggung beban psikologis yang setara karena sama-sama menginginkan kehadiran buah cinta anda berdua.”

Maka tetap saling menyayangi dan memelihara hubungan sebaik mungkin dapat menjadi penyembuh yang menakjubkan, kata Vicki Rachlin, Ph.D., psikolog dan direktur Womankind Counseling Center di Concord, New Hampshire.

“Satu hal yang paling balk yang dapat diperbuat oleh seorang pria dalam situasi ini adalah menunjukkan kepada sang istri betapa berharga hubungan di antara mereka berdua dan betapa positif apa pun yang ada dalam hidup mereka kendati tanpa kehadiran seorang anak. Penting bagi anda untuk menekankan bahwa kualitas positif dalam hidup ini dapat terus berlanjut kendati anda tidak berhasil mengatasi masalah kemandulan,” kata Dr. Rachlin.

Posted in: Sex Article